Pages

Jumat, 15 April 2011

Sungai Nil



Sungai Nil (bahasa Arab: النيل an-nīl atau bahasa Mesir/Koptik iteru , di Afrika, adalah sungai terpanjang di dunia. Sungai Nil mengalir sepanjang 6.650 km atau 4.132 mil dan membelah tak kurang dari sembilan negara yaitu : Ethiopia, Zaire, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan dan Mesir. Nama sungai Nil berasal dari bahasa Yunani Νείλος Neilos yang artinya secara harafiah adalah "lembah sungai".

Sungai Nil bersumber dari mata air di dataran tinggi (pegunungan) Kilimanjaro di Afrika Timur. Sungai Nil mengalir dari arah selatan ke utara bermuara ke Laut Tengah (Laut Mediteran).

Karena sungai Nil memiliki nilai sejarah bagi bangsa Mesir (terutama Mesir kuno), maka bila menyebut sungai Nil selalu diidentikkan dengan Mesir. Sungai Nil mempunyai perangan sangat penting dalam peradaban, kehidupan dan sejarah bangsa Mesir, sejak ribuan tahun yang lalu. Salah satu sumbangan dari sungai Nil adalah kemampuannya dalam menghasilkan tanah subur sebagai hasil sedimentasi di sepanjang daerah aliran sungainya. Dengan adanya tanah subur ini menjadikan penduduk Mesir mengembangkan pertaniannya dan peradaban Mesir berkembang sejak ribuan tahun yang lalu.

Sungai nil menjadi satu-satunya sungai yang menghidupi semua rakyat Mesir. Mesir yang sebagian besar tanahnya berupa shohro atau padang pasir ini, hanya mengandalkan dari sungai ini dan hampir semua penduduknya juga bermukim di sekitarnya.
Peradaban lembah sungai Nil

Peradaban lembah sungai Nil di Mesir, lahir karena kesuburan tanah disekitar lembah sungai, yang disebabkan oleh banjir yang membawa lumpur. Hal inilah yang menarik perhatian manusia untuk mulai hidup dan membangun peradaban ditempat tersebut. Peradaban di lembah sungai Nil dibangun oleh masyarakat Mesir kuno.

Kehidupan masyarakat Mesir kuno

Setiap tahun sungai Nil selalu banjir. Luapan banjir itu menggenangi daerah di kiri kanan sungai, sehingga menjadi lembah yang subur selebar antara 15 sampai 50 kilometer. Di sekeliling lembah sungai berupa gurun. Batas timur adalah gurun Arabia di tepi Laut Merah. Batas selatan terdapat gurun Nubia di Sudan, batas barat adalah gurun Libia. Kemudian batas utara Mesir adalah Laut Tengah.

Menurut mitos, air sungai yang mengalir terus tersebut adalah air mata Dewi Isis yang selalu sibuk menangis dan menyusuri sungai Nil untuk mencari jenazah puteranya yang gugur dalam pertempuran. Namun secara ilmiah, air tersebut berasal dari gletsyer yang mencair dari pegunungan Kilimanjaro sebagai hulu sungai Nil.

Peranan sungai Nil begitu penting bagi lahirnya kehidupan masyarakat di lembah sungai tersebut. Maka tepatlah jika Herodotus menyebutkan “Mesir adalah hadiah dari sungai Nil” (Egypt is the gift of the Nile)
 

Lembah sungai Nil yang subur, mendorong masyarakat untuk bertani. Air sungai Nil dimanfaatkan untuk irigasi dengan membangun saluran air, terusan-terusan dan waduk. Air sungai dialirkan ke ladang-ladang milik penduduk dengan distribusi yang merata. Untuk keperluan irigasi dibuatlah organisasi pengairan yang biasanya diketuai oleh para tuan tanah atau golongan feodal. Hasil pertanian Mesir adalah gandum, sekoi atau jamawut dan jelai yaitu padi-padian yang biji atau buahnya keras seperti jagung.

Untuk memenuhi kebutuhan barang-barang serta untuk menjual hasil produksi rakyat Mesir, maka dijalinlah hubungan dagang dengan Funisia, Mesopotamia dan Yunani di kawasan Laut Tengah. Sungai Nil berperan sebagai sarana transportasi perdagangan. Banyak perahu-perahu dagang yang melintasi sungai Nil.

Sistem kekuasaan raja-raja Mesir kuno

Sejarah politik di Mesir berawal dari terbentuknya komunitas-komunitas di desa-desa sebagai kerajaan-kerajaan kecil dengan pemerintahan desa. Desa itu disebut nomen. Dari desa-desa kecil berkembanglah menjadi kota yang kemudian disatukan menjadi kerajaan Mesir Hilir dan Mesir Hulu. Proses tersebut berawal dari tahun 4000 SM namun pada tahun 3400 SM seorang penguasa bernama Menes mempersatukan kedua kerajaan tersebut menjadi satu kerjaan Mesir yang besar.

Mesir merupakan sebuah kerajaan yang diperintah oleh raja yang bergelar Firaun. Ia berkuasa secara mutlak. Firaun dianggap dewa dan dipercaya sebagai putera Dewa Osiris. Seluruh kekuasaan berada ditangannya baik sipil, militer maupun agama.

Sebagai penguasa, Firaun mengklaim atas seluruh tanah kerajaan. Rakyat yang tinggal di wilayah kerajaan harus membayar pajak. Untuk keperluan tersebut Firaun memerintahkan untuk sensus penduduk, tanah dan binatang ternak. Ia membuat undang-undang dan karena itu menguasai pengadilan. Sebagai penguasa militer Firaun berperan sebagai panglima perang, sedangkan pada waktu damai ia memerintahkan tentaranya untuk membangun kanal-kanal dan jalan raya.

Untuk menjalankan pemerintahannya Firaun mengangkat para pejabat yang pada umumnya berasal dari golongan bangsawan. Ada pejabat gubernur yang memerintah propinsi, panglima ketentaraan, hakim di pengadilan dan pendeta untuk melaksanakan upacara keagamaan. Salah satu jabatan penting adalah Wazir atau Perdana Menteri, yang umumnya dijabat oleh putra mahkota.

Sejak tahun 3400 SM sejarah Mesir diperintah oleh 30 dinasti yang berbeda yang terdiri dari tiga zaman yaitu Kerajaan Mesir Tua yang berpusat di Memphis, Kerajaan Tengah di Awaris dan Mesir Baru di Thebe.

Secara garis besar keadaan pemerintahan raja-raja Mesir adalah sebagai berikut.

Kerajaan Mesir Tua (2660 – 2180 SM)

Lahirnya kerajaan Mesir Tua setelah Menes berhasil mempersatukan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Sebagai pemersatu ia digelari Nesutbiti dan digambarkan memakai mahkota kembar.

Kerajaan Mesir Tua disebut zaman piramida karena pada masa inilah dibangun piramida-piramida terkenal misalnya piramida Sakarah dari Firaun Joser. Piramida di Gizeh adalah makam Firaun Cheops, Chifren dan Menkawa.

Kerajaan Mesir Tua runtuh karena sejak tahun 2500 SM pemerintahan mengalami kekacauan. Bangsa-bangsa dari luar misalnya dari Asia Kecil melancarkan serangan ke Mesir. Para bangsawan banyak yang melepaskan diri dan ingin berkuasa sendiri-sendiri. Akhirnya terjadilah perpecahan antara Mesir Hilir dan Mesir Hulu.

Kerajaan Mesir Tengah (1640 – 1570 SM)

Kerajaan Mesir Tengah dikenal dengan tampilnya Sesotris III. Ia berhasil memulihkan persatuan dan membangun kembali Mesir. Tindakannya antara lain membuka tanah pertanian, membangun proyek irigasi, pembuatan waduk dan lain-lain. Ia meningkatkan perdagangan serta membuka hubungan dagang dengan Palestina, Syria dan pulau Kreta. Sesotris III juga berhasil memperluas wilayah ke selatan sampai Nubia (kini Ethiopia). Sejak tahun 1800 SM kerajaan Mesir Tengah diserbu dan ditaklukkan oleh bangsa Hyksos.

Kerajaan Mesir Baru (1570 - 1075 SM)

Sesudah diduduki bangsa Hyksos, Mesir memasuki zaman kerajaan baru atau zaman imperium. Disebut zaman imperium karena para Firaun Mesir berhasil merebut wilayah / daerah di Asia barat termasuk Palestina, Funisia dan Syria. Pusat kerajaan fir’uan waktu itu terletak di wilayah Mesir bagian utara di Luxor, dimana di sana juga menjadi tempat mengalirnya sungai nil. Abu Simbel yang sekarang sangat terkenal sebagai tempat wisata favorit, dulunya adalah sebagai tempat peribadatan orang-orang Mesir kuno, dan  juga berada tepat di pinggir sungai nil.


Raja-raja yang memerintah zaman Mesir Baru antara lain:
1.     Ahmosis I. Ia berhasil mengusir bangsa Hyksos dari Mesir sehingga berkuasalah dinasti ke 18, ke 19 dan ke 20.
2.     Thutmosis I. Pada masa pemerintahannya, Mesir berhasil menguasai Mesopotamia yang subur.
3.     Thutmosis III. Merupakan raja terbesar di Mesir. Ia memerintah bersama istrinya Hatshepsut. Batas wilayah kekuasaannya di timur sampai Syria, di selatan sampai Nubia, di barat sampai Lybia dan di utara sampai pulau Kreta dan Sicilia. Karena tindakannya tersebut ia mendapat sebutan “Napoleon dari Mesir”. Thutmosis III juga dikenal karena memerintahkan pembangunan Kuil Karnak dan Luxor.
4.      Amen Hotep IV. Kaisar ini dikenal seorang raja, yang pertama kali memperkenalkan kepercayaan yang bersifat monotheis kepada rakyat Mesir kuno yaitu hanya menyembah dewa Aton (dewa matahari) yang merupakan roh dan tidak berbentuk. Ia juga menyatakan sebagai manusia biasa dan bukan dewa.
5.     Ramses II. Ramses II dikenal karena memerintahkan untuk membangun bangunan besar bernama Ramesseum dan Kuil serta makamnya di Abusimbel. Ia juga pernah memerintahkan penggalian sebuah terusan yang menghubungkan daerah sungai Nil dengan Laut Merah namun belum berhasil. Masa Ramses II diperkirakan sezaman dengan kehidupan nabi Musa.

Setelah pemerintahan Ramses II kekuasaan di Mesir mengalami kemunduran. Mesir ditaklukkan Assyria pada tahun 670 SM dan pada tahun 525 SM Mesir menjadi bagian imperium Persia. Setelah Persia, Mesir dikuasai oleh Iskandar Zulkarnaen dan para penggantinya dari Yunani dengan dinasti terakhir Ptolemeus. Salah satu keturunan dinasti Ptolemeus adalah Ratu Cleopatra dan sejak tahun 27 SM Mesir menjadi wilayah Romawi.

Ketika Amr bin Ash menaklukkan Mesir, mereka memindahkan pusat negara Mesir di Cairo yang sebelumnya terletak di Alexandria. Tempat yang mereka pilih sebagai ibukota, senantiasa berada di sekitar aliran sungai nil.Dari sinilah sungai nil menjadi ruh kehidupan rakyat Mesir.


Kanal Sungai Nil di Mesir
Selain merupakan sungai terpanjang di dunia, sungai Nil juga memiliki persediaan air yang berlimpah. Apalagi pada saat banjir, ini menggenangi lembah-lembah yang ada di sekitarnya. Sudah dari sejak lama, sungai Nil memberikan andil yang sangat besar terhadap kesuburan tanah di sekitarnya. Guna meningkatkan peran sugai Nil bagi kesejahteraan manusia, Mesir bersama-sama negara Uni Eropa telah berupaya untuk membangun kanal dan cabang sungai menuju pegunungan Sinai dan Sant Catherine.

Setelah berlangsung cukup lama dan menghabiskan dana yang sangat besar, Sungai Nil yang melegenda ini, akhirnya berhasil dialirkan ke wilayah pegunungan Sinai atau Sant Catherine, tempat Nabi Musa konon menerima wahyu dari Allah. Air sungai Nil berhasil mengalir ke wilayah pegunungan batu dan tandus itu, setelah proyek pembuatan cabang sungai dan kanal air Nil berhasil dirampungkan.

Duta Besar Uni Eropa untuk Mesir, Mark Franco, mengumumkan selesai dan suksesnya prosesi pembangunan proyek pengaliran air sungai Nil ke kota Sant Catherine yang terletak di kaki gunung Sinai (Jabal Thur atau Jabal Musa).

Dalam kunjungannya ke wilayah Sinai Selatan pada Rabu 10 Feb 2010, Franco mengatakan, proyek tersebut merupakan salah satu proyek besar dan penting Uni Eropa untuk mengembangkan wilayah Sinai Selatan.
Biaya proyek pembuatan kanal air Nil menuju wilayah tersebut menghabiskan total dana sebesar 150 Juta Pound Mesir (sekitar 3 Milyar Rupiah). Total biaya yang dianggarkan Uni Eropa untuk mengembangkan kawasan Sinai Selatan berkisar 64 Milyar Euro.

Terletak sekitar 600 KM dari Kairo (kota yang dilalui jalur Sungai Nil), kawasan Sinai Selatan terbilang sebagai kawasan penting. Di kawasan tersebut terdapat tempat suci dan bersejarah bagi tiga agama: Yahudi, Kristen, dan Islam. Selain Gunung Thursina atau Jabal Musa, terdapat juga perkampungan Nabi Syuaib, Makam Nabi Harun, Situs Sapi Samiri, dan juga Biara Kristen Sant Catherine yang berdiri di awal-awal abad Masehi.
Selain meliputi situs-situs bersejarah dan suci, kawasan Sinai Selatan juga memiliki banyak kawasan wisata alam internasional lainnya, utamanya di sepanjang pesisir Laut Merah, semisal pantai Sharm Sheikh, Dahab, Taba, dan lain-lain.

Lima Negara Berselisih Hak atas Sungai Nil


Mengingat peran sungai Nil yang begitu penting bagi negara-negara yang dilewati, maka dibuatlah perjanjian antar negara tersebut dalam hal pengelolaan air sungai ini. Berkenaan dengan hal ini, empat negara Afrika berusaha mengajukan perjanjian baru soal pembagian air dari Sungai Nil. Perjanjian ini telah membuat marah Mesir dan memunculkan kemungkinan adanya pertikaian politik..
Para pejabat dari Rwanda, Ethiopia, Tanzania dan Uganda menandatangani perjanjian itu, hari Jumat (14 Mei 2010) di Entebbe setelah melakukan pembicaraan selama 13 tahun. Tiga anggota lain Inisiatif Lembah Sungai Nil – Kenya, Burundi dan Republik Demokratis Kongo – berjanji menandatanganinya dalam setahun kedepan.
Menteri Perairan Ethiopia Asfaw Dingamo memuji perjanjian itu, mengatakan sungai terpanjang di dunia itu sebagai sumberdaya untuk semua negara. Menteri perairan dan lingkungan Uganda mengatakan kepada VOA perjanjian itu diperlukan untuk memastikan pertumbuhan dan stabilitas kawasan.
Tetapi perjanjian itu memicu kecaman keras dari Mesir, yang bertekad mengambil langkah hukum untuk mempertahankan hak-hak airnya sekarang.
Dalam wawancara dengan VOA, jurubicara Departemen Luar Negeri Mesir Hossam Zaki menyebut penandatanganan itu sebuah “langkah yang disayangkan”.
 
 
Modifikasi : Sri Mulyanti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar